Posted by: widiarti on: 19 November 2009
Desa Kajor yang terletak di pinggiran kota, lingkungannya tergolong kurang terawat. Disana-sini banyak terdapat barang-barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas, dan drum-drum bekas yang tidak terpakai sehingga barang-barang bekas tersebut digenangi oleh air. Sungai dan selokan di desa tersebut terdapat banyak sampah, tersumbat dan tidak terawat.
Sudah sebulan ini di desa Kajor, kehilangan 6 orang warganya yang meninggal dengan gejala panas yang tinggi, kadang disertai menggigil dan nyeri di seluruh badan pada hari pertama hingga ketiga. Pada hari keempat panas turun, mereka mengira penyakit ini sembuh namun pada keesokkan harinya penderita kembali mengalami panas tinggi hingga mimisan, dan akhirnya meninggal dunia.
Sudah sebulan ini di desa Kajor, kehilangan 6 orang warganya yang meninggal dengan gejala panas yang tinggi, kadang disertai menggigil dan nyeri di seluruh badan pada hari pertama hingga ketiga. Pada hari keempat panas turun, mereka mengira penyakit ini sembuh namun pada keesokkan harinya penderita kembali mengalami panas tinggi hingga mimisan, dan akhirnya meninggal dunia.
Saat penderita panas keluarga sudah mengupayakan untuk membantu menurunkan panas dengan cara mengompres dan pemberian obat turun panas. Tapi panas hanya turun beberapa saat, kemudian panas lagi.
Lingkungan di sekitar desa tersebut tergolong kurang terawat. Disana-sini banyak terdapat barang-barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas, dan drum-drum bekas yang tidak terpakai sehingga barang-barang bekas tersebut digenangi oleh air. Sungai dan selokan di desa tersebut terdapat banyak sampah, tersumbat dan tidak terawat.
Para warga yang melihat kejadian tersebut berusaha untuk mengurangi jatuhnya korban akibat penyakit tersebut. Akhirnya mereka bermusyawarah untuk mencari tahu penyebab dan jenis penyakit tersebut, karena mereka merasa pengetahuan mereka tentang penyakit tersebut masih sangat kurang. Atas saran dari salah satu warga, kepala desa Kajor mendatangi puskemas kecamatan untuk mengkonsultasikan kejadian itu. Kepala dusun meminta diadakan penyuluhan dengan bahasa Indonesia karena sebagian masyarakat mengerti bahasa Indonesia.
Motivasi warga untuk mengetahui tentang penyakit ini sangat kuat, dan mereka mengatakan apapun akan dilakukan asal desa mereka terbebas dari penyakit tersebut.
Sekitar 85% warga mampu membaca dan mengerti bahasa Indonesia dengan cukup baik sehingga diharapkan informasi dapat diterima dengan baik dengan menggunakan metode ceramah, disertai visualisasi beberapa leaflet atau lembar balik.
Di salah satu puskesmas kabupaten terdekat, perawat dan dokter yang melayani pasien telah memiliki keterampilan memberikan penyuluhan kesehatan dengan baik karena telah sering sekali mengikuti pelatihan untuk hal tersebut. Alat bantu penyuluhan berupa leaflet dan lembar balik. Siap membantu warga melakukan penyuluhan.
Seorang kader desa Kajor yang mempunyai pengetahuan cukup luas menyarankan kepada warga untuk berkonsultasi kepada perawat atau dokter yang lebih tahu mengenai penyakit tersebut. Akhirnya kepala desa setuju dan mendorong untuk dilaksanakan penyuluhan tentang penyakit tersebut. Para perangkat desa setuju untuk diadakannya penyuluhan dan siap untuk menyediakan tempat serta perlengkapan yang dibutuhkan.
| DATA | MASALAH | ETIOLOGI |
DO:
DS:
|
Ketidaktahuan atau kurang pengetahuan tentang DHF | Perilaku, perawatan diri dan kesehatan lingkungan yang kurang bersih serta kurang pengetahuan tentang DHF |
Ketidaktahuan atau kurang pengetahuan tentang DHF berhubungan dengan perilaku, perawatan diri dan kesehatan lingkungan yang kurang bersih ditandai dengan lingkungan di sekitar desa tersebut tergolong kurang terawat, terdapat barang-barang bekas seperti kaleng, ban bekas, dan drum-drum bekas yang tidak terpakai dan digenangi oleh air, sungai dan selokan di desa Kajor terdapat banyak sampah, tersumbat dan tidak terawat, adanya 6 warga meninggal dengan gejala panas yang tinggi, kadang disertai menggigil dan nyeri di seluruh badan pada hari pertama hingga ketiga dan pada hari keempat panas turun.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Demam berdarah
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit warga diharapkan mampu memahami tentang demam berdarah.
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit diharapkan warga mampu :
Materi penyuluhan yang akan diberikan meliputi :
Ceramah dan Tanya jawab
Media yang digunakan untuk penyuluhan antara lain:
| No. | Waktu | Kegiatan Penyuluhan | Kegiatan Peserta |
| 1 | 3 mnt | Pembukaan (oleh Ara):
|
|
| 2 | 20 mnt | Penyajian (oleh Ria):
|
|
| 3 | 7 mnt | Penutup (oleh Ara):
|
|
Balai desa Kajor
Keterangan
| No | Aspek | Waktu | Metode | Alat | Evaluator |
| 1
2
3 |
Kognitif
Afektif
Psikomotor
|
Segera setelah penyuluhan
Segera setelah penyuluhan
Dua minggu setelah penyuluhan |
Tanya jawab
Tanya jawab
Observasi |
Daftar pertanyaan mengenai demam berdarah
Daftar pertanyaan tentang rencana kedepan. Lembar observasi |
Ina
Ina
Ina |
LAMPIRAN EVALUASI
Berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
Berupa pertanyaan sebagai berikut:
Berupa lembar observasi sebagai berikut:
| No. | Keterangan | Ya | Tidak |
| 1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. |
Menguras penampungan air.
Menutup penampungan air. Mengubur barang bekas. Menaburkan bubuk abate. Membersihkan selokan. Memakai obat anti nyamuk. Tidur mamakai kelambu. |
|
|
ISI MATERI
DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)
Demam Berdarah Dengue (DBD)/ Dengue Hemorragic Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti .
Pada keadaan yang lebih parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam keadaan syok akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut Dengue Shock Syndrome (DSS).
5. Perdarahan di lambung juga menyebabkan nyeri di ulu hati dan mual.
Pertumbuhan nyamuk :
Pemberantasan Nyamuk Demam Berdarah
Tetapi cara fogging ini kurang efektif karena hanya berefek sementara dan dapat mencemari lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.bratachem.com/abate/siklus.htm. 2004. Membasmi Jentik Nyamuk, Mencegah Demam Berdarah.
http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_files/mp_308/materi2.html. 2008. Demam Berdarah Dengue.
http://www.kompas.com. 2007. Demam Berdarah Dengue.
http://118.98.213.22/aridata_web/e-dukasi/pp_full.php-ppid=245&fname=hal3a.htm. 2008. Demam Berdarah Dengue.
Posted by: widiarti on: 6 November 2009
Syphilis in pregnancy could threatening the fetus. T. pallidum could crosses the placenta, resulting in fetal infection. Vertical transmission can occur at any time during pregnancy and at any stage of syphilis. Vertical transmission of syphilis is more common in primary (50%) and secondary syphilis (50%), compared with early latent (40%), late latent (10%), and tertiary syphilis (10%). Seventy to one hundred per cent of infants born to untreated infected mothers are infected. Pregnancies complicated by syphilis may result in intrauterine growth restriction, non-immune hydrops fetalis, stillbirth, preterm delivery, and spontaneous abortion in up to 50% of pregnancies. Women who had documented treatment for syphilis in the past do not need treatment during current or subsequent pregnancies.
Penicillin is the drug of choice for treating all stages of syphilis. Parenteral rather than oral treatment has been the route of choice as the therapy is supervised and bioavailability is guaranteed. Most women treated during pregnancy will deliver before their serological response to treatment can be assessed definitively. Neonates born to such women should be evaluated for congenital syphilis. For the treatment of early syphilis during pregnancy is procaine penicillin 750 mg daily for 10 days. If it is not possible to give daily procaine penicillin on the weekend, then either long-acting procaine penicillin in aluminium stearate, 2 million units (MU) or long-acting benethamine penicillin 1.2 MU should be given IM on the Friday. Patients with penicillin allergy: erythromycin 500 mg four times a day should be given for 14 days. Alternatively, azithromycin 500 mg should be given daily for 10 days. In addition to this, examination, tests, and treatment of all babies at birth should be carried out. Desensitization to penicillin may be considered, followed by the first-line treatment. Mothers treated with erythromycin or azithromycin may be considered for retreatment with doxycycline after delivery and when breast-feeding is stopped.
(Expert Rev Vaccines. 2008;7(10):1465-1473)
Sifilis pada kehamilan dapat mengancam janin. T. pallidum dapat melintasi plasenta, menyebabkan infeksi janin. Penularan vertikal dapat terjadi setiap saat selama kehamilan dan pada setiap tahap sifilis. Transmisi vertikal sifilis lebih umum di SD (50%) dan sifilis sekunder (50%), dibandingkan dengan laten dini (40%), terlambat laten (10%), dan tersier sifilis (10%). 70 – 100% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi dan tidak diobati akan terinfeksi. Kehamilan oleh sifilis dapat mengakibatkan pertumbuhan intrauterine batasan, non-imun hydrops fetalis, bayi lahir mati, kelahiran prematur, dan spontan aborsi di hingga 50% dari kehamilan. Perempuan yang telah didokumentasikan pengobatan untuk sipilis di masa lalu tidak perlu perawatan selama kehamilan saat ini atau berikutnya.
Penisilin adalah obat pilihan untuk mengobati semua tahap sifilis. Daripada parenteral perawatan oral telah menjadi pilihan rute sebagai terapi dibimbing dan bioavailabilitas dijamin. Kebanyakan wanita yang diobati selama kehamilan akan memberikan sebelum mereka terhadap pengobatan serologis dapat dinilai pasti. Neonatus lahir perempuan tersebut harus dievaluasi untuk sifilis kongenital. Untuk pengobatan sifilis awal selama kehamilan adalah procaine penisilin 750 mg setiap hari selama 10 hari. Jika tidak mungkin untuk memberikan procaine penisilin setiap hari di akhir pekan, maka pemberian procaine penisilin dalam aluminium Stearate, 2 juta unit (MU) atau selama 1,2 pemberian benethamine MU penisilin harus diberikan IM pada hari Jumat. Pasien dengan alergi penisilin: eritromisin 500 mg empat kali sehari harus diberikan selama 14 hari. Atau, azitromisin 500 mg harus diberikan setiap hari selama 10 hari. Selain ini, pemeriksaan, tes, dan perawatan pada saat kelahiran semua bayi harus dilakukan. Desensitisasi terhadap penisilin dapat dipertimbangkan, diikuti oleh pengobatan lini pertama. Ibu diobati dengan eritromisin atau azitromisin dapat dipertimbangkan untuk penafsiran dengan doxycycline setelah melahirkan dan saat menyusui dihentikan.
(Expert Rev Vaksin. 2008; 7 (10) :1465-1473)
Posted by: widiarti on: 21 Oktober 2009
THYPOID ABDOMINALIS
A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi dan Salmonella parathyphi A, Salmonella parathyphi B, dan Salmonella parathyphi C. Sinonim dari penyakit ini adalah typhoid dan paratyphoid abdominalis. Penularannya secara fecal dan oral melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh kuman Salmonella typhi.
2. Etiologi
Penyebab typhoid adalah Salmonella thyphi, Salmonella parathyphi A, Salmonella parathyphi B, dan Salmonella parathyphi C. Salmonella thyphi merupakan basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya empat macam antigen yaitu antigen O (somatik, terdiri dari zat kompleklipolisakarida), antigen H (flagela), antigen V1 dan protein membran hialin. Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.
Ada dua sumber penularan Salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3. Patofisiologi
Penularan Salmonella thyphi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman Salmonella thyphi kepada orang lain melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman Salmonella thyphi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Pada minggu pertama sakit, terjadi hyperplasia plaks player. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar, kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus.
4. Manifestasi Klinik
Masa inkubasi rata – rata bervariasi 7 – 20 hari, inkubasi terpendek 3 hari. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah kuman yang masuk saluran pencernaan, keadaan umum, status gizi serta status imunologis penderita. Sedangkan untuk dapat menimbulkan infeksi dibutuhkan bakteri sejumlah 105 – 109. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu makan kurang. Kemudian disusul dengan gejala klinis lainnya.
a. Minggu I
Serangan demam dapat mencapai 400 C.Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Biasanya penderita mengeluh sakit kepala hebat, tampak apatis, bingung dan lelah, denyut nadi lemah, tidak didapatkan nyeri perut yang jelas tapi penderita merasa tidak enak di perut, perut kembung, sering di dapatkan rasa mual dan muntah dan mungkin dapat disertai obstipasi atau diare. Pada saat panas tinggi mulut menjadi kering karena saliva berkurang, lidah tampak kotor dan berkerak. Bintik bintik kemerahan pada kulit ( roseola) akibat emboli basil dalam kapiler kulit dapat terjadi pada hari ke tujuh. Bintik – bintik berlangsung 3 – 5 hari dan dapat menghilang dengan sendirinya.
b. Minggu II
Sebagian besar penderita mengalami demam tinggi yang bersifat kontinu, dengan sedikit penurunan pada waktu pagi hari. Lidah tampak kering merah mengkilat, sedangkan nadi semakin cepat, tekanan darah menurun, perut semakin kembung dan merasa semakin tidak enak, diare menjadi lebih sering, keadaan penderita semakin menurun, apatis, bingung, tidak dapat istirahat atau tidur, kehilangan nafsu makan dan minum, pada pemeriksaan abdomen sulit digambarkan, biasanya terdapat nyeri dan distensi abdomen.
c. Minggu III
Pada akhir minggu ketiga, bila keadaan membaik, gejala – gejala akan berkurang dan temperatur mulai menurun secara lisis dan mencapai normal pada minggu berikutnya. Komplikasi pendarahan dan perforasi cenderung terjadi akibat lepasnya kerak dari ulkus, abdomen lebih distensi dari sebelumnya. Sebaliknya jika keadaan semakin memburuk dapat terjadi derilium atau stuppor.
d. Minggu IV
Merupakan stadium penyembuhan dimana tanda dan gejala mulai menghilang.
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
b. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh Salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :
1) Faktor yang berhubungan dengan klien :
a) Keadaan umum : gizi buruk menghambat pembentukan antibodi.
b) Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit : aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
c) Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
d) Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
e) Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
f) Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
g) Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.
h) Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.
2) Faktor-faktor Teknis
a) Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
b) Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.
c) Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.
c. Biakan Darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
1) Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau.
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
d. Biakan empedu
Terdapat basil Salmonella thyphi dalam urine dan tinja. Jika pada pemeriksaan selama 2 kali berturut-turut tidak ditemukan basil Salmonella thyphi maka pasien dinyatakan benar-benar sembuh.
Penatalaksanaan
a. Perawatan
1) Klien tirah baring absolut sampai minimal 7 hari sampai demam tulang atau kurang lebih 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan/perforasi usus.
2) Mobilisasi klien dilakukan secara bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan (sesuai kekuatan klien).
3) Posisi tubuh klien harus diubah-ubah tiap 2 jam untuk menghindari terjadinya dekubitus, komplikasi pneumia hipostatik.
b. Diet
1) Diet yang sesuai, cukup kalori, tinggi protein, cukup cairan,tidak boleh mengandung banyak serat, dan tidak merangsang maupun menimbulakan gas.
2) Makanan diberikan secara bertahap disesuaikan dengan penyakitnya (mula-mula cair, saring, lunak, makanan biasa). Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4) Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
c. Obat-obatan
Pengobatan antibiotika pada penderita Typhus andominalis akan memperpendek perjalanan penyakit, mengurangi komplikasi dan mengurangi angka kematian kasus. Obat-obat simtomatik sebenarnya tidak perlu diberikan secara rutin pada setiap pasien karena tidak banyak berguna (sesuai dengan penyakit) misalnya:
1) Antipiretik
2) Kartikosteroid (diberikan pada pasien yang toksik)
3) Suportif (vitamin-vitamin)
4) Penenang (diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikatri).
Sedangkan obat-obatan antimikrobia yang sering diberikan antara lain:
1) Klorampenikol
Dengan klorampenikol, demam turun rata-rata setelah lima hari. Dosis untuk orang dewasa 4 kali 500mg/hari secara oral sampai 7 hari bebas demam.
2) Tiampenikol
Dosis dan efektifitas tiampenikol pada penderita Typhus abdominalis sama dengan klorampenikol. Demam rata-rata turun setelah 5-6 hari.
3) Kotrimoxazol (kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol)
Efektifitas kotrimoxazol kurang lebih sama dengan klorampenikol. Demam turun rata-rata setelah 5-6 hari. Dosis dewasa 2 kali 2 tablet sampai 7 hari bebas demam. Setiap tabletnya mengandung 80 mg Trimetoprim dan 400 mg Sulfametoksazol.
4) Amoxicilin dan ampicillin
Dalam kemampuannya untuk menurunkan demam, efektifitasnya lebih kecil dibandingkan dengan klorampenikol. Digunakan sampai 7 hari bebas demam, denagn ampicilin dan amoxicillin demam turun rata-rata setelah 7-9 hari.
5) Sefalosporin generasi ketiga
Sefalosporin generasi ketiga antara lain Sefaperozon, Seftriakson, dan Sefotaksim. Dosis dan lama pemberian belum diketahui dengan pasti.
6) Fluorokinolon
Dosis dan lam pemberian belum diketahui dengan pasti.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Keluhan Utama
Perasaan tidak enak pada perut, muntah, mual, kembung, nafsu makan berkurang (anorexia), diare, pucat (anemi), nyeri kepala, pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma, dan demam.
b. Pola Fungsi Kesehatan
1) Aktifitas
Keterbatasan gerak (tirah baring) dan kelemahan fisik.
2) Eliminasi
Diare atau konstipasi.
3) Nutrisi
Mual, muntah, anorexia, lidah kotor, dan rasa pahit saat makan.
4) Istirahat
Gelisah saat suhu tubuh tinggi.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Badan lemah, panas, pucat, mual, perut terasa tidak enak, anorexia.
2) Kepala dan leher
Konjungtiva anemia, pucat atau bibir kering, lidah kotor ditepi dan ditengah merah.
3) Integumen
Bintik – bintik kemerahan pada punggung dan ekstremitas.
4) Dada abdomen
Nyeri tekan di daerah abdomen, kembung.
5) Sistem kardiovaskuler
Tekanan darah meningkat, ditemukan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.
6) Sistem respirasi
Bradikardi, gangguan kesadaran.
7) Sistem eliminasi
Diare atau konstipasi, produk kemih klien menurun (kurang dari normal N ½ – 1 cc/kg BB/jam).
d. Pemeriksaan Laboratorium
1) Biakan darah positif
Leukopenia, limfositosis, aneosinofilia, anemia, dan trombositopenia.
2) Tes SGOT dan SGPT
Terjadi peningkatan SGOT dan SGPT.
3) Tes widal positif
Titer terhadap antigen O≥1/200.
4) Biakan empedu positif
Biakan Salmonella typhosa pada darah, urine, feces, dan empedu).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada penderita Typhus Abdominalis antara lain:
1) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Salmonella thyposa.
2) Risiko defisit volume cairan berhubungan dengan pemasukan yang kurang, mual, muntah, pengeluaran yang berlebiha, diare, panas tubuh.
3) Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare.
4) Gangguan pada defekasi : diare berhubungan dengan peradangan pada dinding usus halus.
5) Perubahan pola defekasi : konstipasi berhubungan dengan proses peradangan pada dinding usus halus.
6) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan perubahan status tirah baring.
7) Perubahan rasa nyaman : nyeri, mual, muntah, diare, berhubungan dengan inflamasi.
Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit.
3. Perencanaan
Rencana tindakan keperawatan pada penderita Typhus abdominalis :
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Salmonella thyposa.
Tujuan : hipertermi dapat diatasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : suhu tubuh dalam rentang normal.
Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda vital minimal 2 jam sekali, pasien bebas dari kedinginan dan menggigil.
Rasional : Tanda-tanda vital dalam batas normal menandakan keadaan umum baik.
2) Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikassi.
Rasional : Suhu ruangan/jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
3) Berikan kompres hangat, hindari penggunaan alkohol.
Rasional : Dapat membantu mengurangi demam. Penggunaan air es/alkohol mungkin menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual. Selain itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.
4) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (Tylenol).
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam.
5) Jelaskan upaya untuk mengurangi hipertermi dan bantu pasien untuk pelaksanaannya.
a) Tirah baring dan mengurangi aktifitas fisik.
Rasional : Dapat mengurangi energi yang dikeluarkan.
b) Anjurkan pasien untuk b anyak minum 2-3 liter per hari.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan masukan cairan yang banyak.
c) Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang tipis dans men yerap keringat.
Rasional : Pakaian yang tipis akan membantu dalam penyerapan keringat.
d) Anjurkan pasien untuk tidur terlentang.
Rasional : Tidur terlentang dapat memperluas permukaan tubuh sehingga dapat mempercepat proses penguapan.
b. Risiko defisit volume cairan berhubungan dengan pemasukan yang kurang, mual, muntah, pengeluaran yang berlebiha, diare, panas tubuh.
Tujuan : kekurangan cairan dapat diatasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : pasien tidak mengalami tanda-tanda dehidrasi yang ditandai dengan tanda vital stabil dalam batas normal, turgor kulit normal, membran mukosa lembab tidak ada rasa haus yang berlebihan, input dan output cairan seimbang.
Intervensi :
1) Kaji perubahan tanda vital.
Rasional : peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkatkan metabolik dan kehilangan cairan melalui penguapan (evaporasi).
2) Kaji turgor kulit, membran mukosa.
Rasional : indikator langsung keadekuatan volume cairan.
3) Catat laporan mual/muntah
Rasional : adanya gejala ini menurunkan masukan oral.
4) Pantau masukan dan haluaran, hitung keseimbangan cairan.
Rasional : memberikan informasi tentang keadekutan volume cairan dan kebutuhan penggantian.
5) Tekankan cairan sedikitnya 2500 ml/hari atau sesuai kondisi pasien.
Rasional : pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan resiko dehidrasi.
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi, misalnya antipiretik, antiemetik.
Rasional : berguna menurunkan kehilangan cairan.
7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan IV sesuai keperluan.
Rasional : adanya penurunan masukan/banyak kehilangan, penggunaan parenteral dapat memperbaiki/mencegah kekurangan cairan.
c. Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia, atau output yang berlebihan akibat diare.
Tujuan : nutrisi tercukupi untuk memenuhi kebutuhan tubuh sebelum, selama, dan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : pasien mengalami peningkatan berat badan ideal, mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.
Intervensi :
1) Pantau masukan makanan dan timbang berat badan setiap hari.
Rasional : anoreksia, kelemahan dan kehilangan pengaturan metabolisme terhadap makanan dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan terjadinya malnutrisi.
2) Catat muntah mengenai jumlah kejadian, atau karakteristik lainnya.
Rasional : ini dapat membantu untuk menentukan derajat kemampuan pencernaan atau absorbsi makanan.
3) Berikan atau bantu perawatan mulut.
Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan.
4) Berikan informasi tentang menu pilihan.
Rasional : perencanaan menu yang disukai pasien dapat menstimulasi nafsu makan dan meningkatkan pemasukan makanan.
5) Berikan lingkungan yang nyaman untuk makan, contoh bebas dari bau tidak sedap.
Rasional : dapat meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki pemasukan makanan.
6) Sarankan makanan dalam porsi kecil tetapi sering.
Rsional : pemberian makanan dalm porsi lebih kecil kalau diberikan sering akan lebih mudah ditoleransi sehingga kebutuhan perhari terpenuhi.
7) Kolaborasi dengan ahli gizi.
Rasional : bermanfaat untuk menentukan kebutuhan kalori yang tepat.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antiemetik, sedatif, dan kortikosteroid yang sesuai.
Rasional : kombinasi terapi obat berupaya untuk mengurangi mual/muntah.
d. Gangguan pada defekasi : diare berhubungan dengan peradangan pada dinding usus halus.
Tujuan : diare dapat dihentikan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : meningkatkan fungsi usus mendekati normal, defekasi sesuai dengan pola dengan konsistensi lembek.
Intervensi :
1) Kaji penurunan jumlah feces, peningkatan konsistensi feses, dan penurunan urgensi BAB.
Rasional : peningkatan feses membantu mengevaluasi efektifitas agen antidine dan pembatasan diet.
2) Pertahankan lingkungan yang bebas bau untuk klien, misalnya pispot dikosongkan segera, ganti linen yang basah, berikan pengharum ruangan.
Rasional : bau fekal dapat menyebabkan rasa malu dan dapat menyebabkan stres.
3) Lakukan perawatan peringeal yang baik.
Rasional : iritasi perianal, ekskorasi dan pruritus karena sering buang air besar dapat dicegah.
4) Dorong diet tinggi serat dalam batassan diet, dengan masukan cairan sedang sesuai diet yang dibuat.
Rasional : meningkatkan konsistensi feses, kelebihan jumlah mempengaruhi diare.
5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat sesuai indikasi.
Rasional : mungkin perlu untuk mengontrol frekuensi defekasi.
6) Gantikan cairan dan elektrolit dengan cairan per oral yang mengandung elektrolit yang tepat.
Rasional : tipe cairan pengganti tergantung pada kebutuhan elektrolit.
e. Perubahan pola defekasi : konstipasi berhubungan dengan proses peradangan pada dinding usus halus.
Tujuan : konstipasi dapat diatasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : defekasi sesuai dengan pola dan konsistensi lembek.
Intervensi :
1) Auskultasi bising usus.
Rasional : adanya bunyi abnormal menunjukkan terjadinya komplikasi.
2) Selidiki keluhan nyeri abdomen.
Rasional : mungkin berhubungan dengan distensi gas atau terjadinya komplikasi misalnya ileus.
3) Kaji kebiasaan atau pola defekassi sebelum sakit, tindakan untuk memperlancar buang air besar sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat.
Rasional : mengetahui pola defekasi sebelum sakit, serta tindakan untuk memperlancar buang air besar sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat.
4) Jelaskan penyebab konstipasi.
Rasional : penjelasan mengenai konstipasi mengurangi kecemasan pasien.
5) Berikan stimulasi untuk buang air besar dengan minum air putih 1-2 gelas sebelum waktu yang biasanya pasien buang air besar, makan buah-buahan seperti pepaya, pisang, sari buah.
Rasional : air putih dapat melembekkan feses dan buah-buahan mempermudah pengeluaran feses.
6) Beri mobilisasi miring kanan-kiri atau duduk yang diijinkan bagi pasien.
Rasional : mobilisasi yang dianjurkan kepada pasien dapat meningkatkan peristaltik usus.
7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian pelunak feses, supositoria gliserin seseuai indikasi.
Rasional : mungkin perlu untuk merangsang peristaltik dengan perlahan/evakuasi feses.
f. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan perubahan status tirah baring.
Tujuan : kebutuhan dasar perawatan diri pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : kebutuhan dasar perawatan diri pasien seperti mandi, eliminasi dapat terpenuhi, komplikasi pada tirah baring tercegah/minimal.
Intervensi :
1) Berikan bantuan dalam pemenuhan kebutuhan dasar perawatan diri pasien.
Rasional : pemberian bantuan sangat dibutuhkan saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar perawatan diri pasien tanpa membuat pasien mengalami ketergantungan pada perawat.
2) Dekatkan semua keperluan pasien dalam jangkauan, misalnya bel, meja, dll.
Rasional : membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa orang lain.
3) Observasi keluhan atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Rasional : untuk mengetahui tingkat kemandirian pasien.
4) Jelaskan tujuan tirah baring untuk mencegah komplikasi dn mempercepat proses penyembuhan.
Rasional : penjelasan diberikan pada pasien untuk kooperatif.
5) Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Rasional : tirah baring dapat mrnurunkan kemampuan karena terjadi keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
g. Perubahan rasa nyaman : nyeri, mual, muntah, diare, berhubungan dengan inflamasi.
Tujuan : pasien tidak merasakan nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : pasien tidak mengeluh nyeri dan menyatakan nyeri hilang.
Intervensi :
1) Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien.
Rasional : makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin.
2) Berikan perawatan oral sering dan tindakan kenyamanan, misalnya perubahan posisi, pemijatan punggung.
Rasional : napas bau karena tertahannya sekret mulut menimbulkan tidak nafsu makan dan dapat meningkatkan mual.
3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan dan melakukan perubahan diet.
Rasional : pilihan makanan akan tergantung pada keluhan pasien.
4) Jelaskan pada pasien mengenai penyebab nyeri, mual, muntah, dan diare, lama nyeri akan berlangsung, obat yang diberikan serta efek sampingnya.
Rasional : bila klien harus mencoba menunjukkan nyeri yang dialaminya pada pemberi perawatan, ia mengalami peningkatan ansietas, yang pada akhirnya dapat menimbulkan nyeri.
5) Berikan klien pereda nyeri optimal dengan privasi untuk pengalaman nyerinya.
Rasional : rasa malu pasien dimana orang lain mengobservasi responnya pada nyeri dapat meningkatkan ansietas dan meningkatkan nyeri.
6) Berikan pereda nyeri optimal dengan analgesik yang diresepkan.
Rasional : pereda nyeri optimal menurunkan ansietas yang berhubungan dengan kekambuhan nyeri.
7) Kolaborasi dengan pasien untuk mengidentifikasi metode untuk menurunkan intensitas nyeri.
Rasional : klien paling tahu tentang nyeri dan dapat memberikan pemahaman yang berharga dalam penatalaksanaan.
h. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit.
Tujuan : pengetahuan pasien meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : pasien mengerti dan memahami tentang faktor penyebab penyakit.
Intervensi :
1) Mengkaji tingkat ansietas pasien (ringan, sedang, berat).
Rasional : Perawat mengetahui tingkat ansietas pasien dan dapat mengatasi tingkat ansietas pasien sesuai dengan keadaannya.
2) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang faktor penyebab yang terjadi pada penyakit pasien.
Rasional : Pasien dapat mengerti dan memahami faktor penyebab terhadap penyakitnya.
3) Mengidentifikasi dan memberikan penjelasan tentang pencegahan penyakit pasien.
Rasional : Pasien mampu melakukan tindakan pencegahan yang disarankan perawat.
4) Memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tentang cara tindakan penanggulangan setelah pulang dari RS.
Rasional : Agar pasien mengerti hal-hal yang dapat membuat terjadinya penyakit itu lagi.
4. Pelaksanaan
Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal. Implementasi adalah perawat menimplementasikan intervensi-intervensi yang terdapat dalam rencana perawatan. Komponen dalam tahap implementasi, meliputi tindakan keperawatan mandiri, tindakan keperawatan kolaboratif, dokumentasi tindakan keperawatan, dan respon pasien terhadap asuhan keperawatan.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan criteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Sedangkan komponen tahap evalusi antara lain: pencapaian criteria hasil, keefektifan tahap-tahap proses keperawatan, dan revisi. Ada dua macam evaluasi, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses yaitu mengevaluasi respon pasien pada setiap tindakan yang dilakukan. Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua rencana tindakan selesai dilaksanakan. Evaluasi hasil meliputi SOAP, yaitu Subjektif (data yang diungkap pasien), Objektif (data pasien yang diamati), Analisa (jika tujuan tercapai maka intervensi dihentikan, jika tujuan tercapai sebagian maka intervensi silanjutkan, dan jika tujuan belum tercapai maka intervensi diubah), dan Planning (rencana tindakan).
C. Kesimpulan
1. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi.
2. Berdasarkan implementasi yang dilakukan, maka evaluasi yang di harapkan untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital stabil, kebutuhan cairan terpenuhi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, tidak terjadi hipertermia, klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya.
Daftar Pustaka
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal bedah Edisi 8 Volume 1. Jakarta: EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah kolaboratif. Jakarta: EGC.
Doenges, Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
2007. Diagnosa NANDA (NIC & NOC). Jakarta: EGC.
Posted by: widiarti on: 6 Oktober 2009
Makasih buat surprisenya teman2*….
Luph u aLL :*